Metro, Lampung, 20 Oktober 2026 – Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD), UIN Jurai Siwo Lampung, menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Mahasiswa bertema “AI for Dakwah” pada Senin–Selasa, 19–20 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu lantai 2.4 (GKT 2.4) UIN Jurai Siwo Lampung ini bertujuan meningkatkan literasi digital dan keterampilan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung aktivitas dakwah dan pengembangan masyarakat Islam.
Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa PMI tersebut secara resmi dibuka oleh Dekan FUAD UIN Jurai Siwo Lampung, Dr. Albarra Sarbaini, M.Pd. Turut hadir Wakil Dekan II, Wakil Dekan III, Kepala Bagian Tata Usaha FUAD, Ketua Program Studi PMI Dr. Yuyun Yunita, M.Pd., serta Sekretaris Program Studi PMI Dr. Wawan Trans Pujianto, M.Kom.I.
Dalam sambutannya, Dekan FUAD Dr. Albarra Sarbaini, M.Pd., menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan tanggung jawab moral.
“Perkembangan kecerdasan buatan perlu disikapi secara terbuka, kritis, dan bertanggung jawab. Mahasiswa harus mampu mengikuti kemajuan teknologi sekaligus menjaga integritas akademik, karakter, dan nilai-nilai keislaman. Teknologi hendaknya dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas dakwah, memperluas jangkauan edukasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian draf pernyataan yang dapat disesuaikan dengan sambutan Dekan.
Menurutnya, penguasaan teknologi digital menjadi salah satu kompetensi penting bagi mahasiswa perguruan tinggi Islam. Kemampuan tersebut perlu diiringi dengan penguatan keilmuan, kreativitas, dan etika agar mahasiswa mampu menggunakan teknologi secara tepat sesuai kebutuhan masyarakat.
Ketua Program Studi PMI, Dr. Yuyun Yunita, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan “AI for Dakwah” merupakan bagian dari upaya program studi untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan praktik dakwah serta pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa PMI tidak hanya memahami dakwah dan pengembangan masyarakat dari sisi teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk memanfaatkan teknologi digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan gagasan, membuat konten edukasi keislaman, serta merancang program pemberdayaan masyarakat yang lebih kreatif dan relevan dengan kebutuhan zaman,” demikian draf kutipan yang perlu dikonfirmasi kepada Ketua Program Studi.
Ia menambahkan, pemanfaatan AI dapat membuka peluang baru dalam pengembangan media dakwah, penyusunan materi edukasi, komunikasi pembangunan, serta pengelolaan informasi digital. Namun, mahasiswa tetap perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan teknologi.
Sekretaris Program Studi PMI, Dr. Wawan Trans Pujianto, M.Kom.I., menambahkan bahwa penguasaan teknologi kecerdasan buatan perlu menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan media dan kebutuhan masyarakat.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa AI bukan sekadar teknologi untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan efektivitas komunikasi, dan memperluas jangkauan dakwah. Yang tidak kalah penting, mahasiswa harus mampu menggunakan teknologi ini secara kritis dan bertanggung jawab, terutama dalam memastikan kebenaran informasi serta menjaga etika dalam menyampaikan pesan keagamaan,” Ucapnya secara terpisah.
Kegiatan ini menghadirkan Usep Saprudin, S.Kom., M.T.I., sebagai narasumber, dengan Efa Septiana, M.Kes., bertindak sebagai moderator. Pembahasan difokuskan pada peluang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung produksi konten dakwah, pengembangan bahan pembelajaran, serta penyampaian pesan keagamaan melalui berbagai platform digital.
Dalam pemaparan materinya, Usep Saprudin, S.Kom., M.T.I., diharapkan dapat menekankan bahwa AI merupakan teknologi pendukung yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan kreativitas dalam menghasilkan konten digital.
“AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa menggali ide, menyusun kerangka materi, mengembangkan konsep konten, dan merancang strategi komunikasi dakwah. Namun, hasil yang diberikan AI tetap harus diperiksa dan disesuaikan dengan tujuan komunikasi, konteks masyarakat, serta sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Teknologi ini bukan pengganti kemampuan berpikir manusia, melainkan alat bantu yang perlu digunakan secara bijak,” demikian draf kutipan narasumber yang perlu diselaraskan dengan materi yang benar-benar disampaikan.
Pemanfaatan AI dalam dakwah memiliki relevansi dengan kompetensi mahasiswa PMI, terutama dalam bidang komunikasi pembangunan, pendampingan masyarakat, pengembangan media edukasi, dan pengelolaan informasi digital. Melalui keterampilan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu merancang pendekatan dakwah yang lebih komunikatif, kreatif, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat yang semakin akrab dengan teknologi.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan AI tetap memerlukan perhatian terhadap ketepatan informasi dan tanggung jawab akademik. Mahasiswa perlu memastikan bahwa materi keagamaan yang disusun dengan bantuan AI memiliki dasar rujukan yang jelas, tidak mengandung informasi yang menyesatkan, serta tetap memperhatikan etika komunikasi dan nilai-nilai Islam.
egiatan yang berlangsung selama dua hari ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami peluang sekaligus keterbatasan teknologi kecerdasan buatan. Penguasaan teknologi diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi berkembang menjadi kecakapan dalam memilih alat yang sesuai, menyusun pesan yang efektif, memverifikasi informasi, dan mengevaluasi dampak komunikasi digital.
Melalui penyelenggaraan “AI for Dakwah”, Program Studi PMI FUAD UIN Jurai Siwo Lampung menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas kompetensi mahasiswa melalui integrasi pengetahuan keislaman, keterampilan pemberdayaan masyarakat, dan penguasaan teknologi digital.
Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu langkah dalam mempersiapkan lulusan PMI yang adaptif, kreatif, beretika, dan profesional. Dengan memanfaatkan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan konten dakwah yang edukatif serta mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang memberikan kontribusi nyata di tengah transformasi digital. (AA/WTP)
